Cerita akhir tahun kemarin ketika bertugas di ujung timur pulau Flores, menyempatkan bersama tim assesor pmk3i untuk berkunjung ke salah satu Kampung adat yang merupakan kampung adat tertua di NTT, bernama Kampung Bena. Ya, pandangan pertama menjelang masuk pintu gerbang, kekaguman muncul karena seperti melihat artefak yang masih hidup sejak 1200 tahun yang lalu. Mungkin sudah insting dalam melihat hal baru dan mulai kepo dengan capture di banyak sudut hingga ngobrol panjang dengan beberapa penduduk.

Akhirnya memutuskan kampung Bena sebagai objek desain infografik bertema “Indonesia Surganya Travelling”. Cukup bersyukur karena kunjungan sebelumny tersebut merupakan bagian dari observasi, tinggal melengkapi data dari beberapa sumber tentang kampung bena melalui portal resmi milik plat merah, program pariwisata dan bbrp jurnal penelitian.

Sambil cek ulang metode di tahap setelahnya, infografis ini akan lebih banyak dikonsep tentang informasi kepariwisataan, yang kemungkinan besar tak akan membuatnya membahas dengan rinci secara bentuk arsitektural.

Next step, mulai merakit konten untuk membuat narasi menjadi lebih hidup dan memastikan data memang betul sesuai dengan sumber yang didapatkan. Masuk ke dalam visualisasi, tahap paling ribet karena harus “menyingkirkan” beberapa bangunan baru dan pepohonan rimbun yang menutupi bangunan asli dari Kampung Bena. Akhirnya merekontruksi ulang secara visual dgn beberapa alternatif sketsa.

Setelah dirasa cukup pada proses perancangan, mulai view testing and adjustment di beberapa mobile device untuk memastikan readability dan legibilitynya ok. Tidak lupa juga optimizing size dengan software komperesi metadata untuk mencari ukuran minimal dan namun masih dengan hasil yang optimal. Dannn akhirnya, saya juga baru lebih paham ttg kampung bena setelah infografiknya beres. The process is more important than the goal..